Powered By Blogger

Senin, 24 Oktober 2011

(¯`*•.¸ Melihat Aib Diri ¸.•*´¯)

*`• ...…* ♥ (¯`*•.¸*♥*¸.•*´¯) ♥ *....… •´*
.......♥♥ Melihat Aib Diri (¯`*•.¸*♥*¸.•*´¯) ♥



بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



" Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang hanba maka Dia menjadikan hamba melihat aib dirinya sendiri."

☀☆☀☆

Suatu hari Umar Radhiyallahu 'anhu berkata kpada Salman. "Apa saja yang kau dengar tentang diriku yg tak kau sukai, wahai Salman ?"

Mendengar pertanyaan yang tak disangkanya itu Salman hanya diam. Hatinya memang menyimpan gunjingan orang tentang Umar, tapi demi menjaga persahabatan mereka, ia tak akan menyampaikan itu. Salman tak bersedia menjawabnya. Tapi, rupanya Umar terus mendesak.

"Aku mendengar bahwa engkau menumpuk dua lauk dalam satu piring dan engkau memiliki dua pakaian, pakaian siang dan pakaian malam," ujar Salman.

"Adakah hal lain yang kau dengar ?" tanya Umar lagi.
"Tidak."
"Kedua hal itu sudah kutinggalkan." ujar Umar lega.

Umar mengajukan pertanyaan itu dengan satu tujuan yang pasti, Mengetahui AIB DIRI. Umar tentulah bukan orang yang tak suka bermuhasabah dan bertafakur tentang amal dirinya. Kegiatan introspeksi itu pastilah sudah ia lakukan. Tapi Amirul Mukminin setelah Abu Bakar itu masih merasa kurang. Ia takut keterbatasan diri membuatnya luput melihat aib dirinya secara utuh. Makanya ia menemui Salman sebagaimana dia juga menemui Khudzaifah, seorang sahabat yang dipandang memegang rahasia Rasulullah serta sangat tajam pandangannya dalam melihat orang munafik.
"Adakah kau melihat tanda-tanda kemunafikan dalam diriku, Khudzaifah ?" tanya Umar.

Yang dianggap aib oleh salman dan dibenarkan oleh Umar tentu bukanlah perkara besar jika diukur dengan nilai yang berlaku saat ini. Makan dengan dua lauk dalam satu piring bukanlah hal yang patut dicela karena sekarang sudah lazim orang makan dengan lauk beraneka ragam. Begitu pun memiliki dua pakaian berdasarkan waktu siang dan malam juga bukan hal yg merupakan aib saat ini. Tapi hal ini menjadi gunjingan di masa Nabi karena nilai dan etika waktu itu memang masih demikian murni.

Jika Nabi menganggap Aisyah, isteri tersayangnya, makan terlaku banyak saat didapati makan dua kali sehari, tentulah apa yang dilakukan Umar bisa dipandang sebagai hal yang berlebih-lebihan. Dan umar dengan ketakwaannya tak lagi mengulangi dua perbuatan itu.

☀☆☀☆

Menengok kisah ini kita sungguh malu jika melihat kehidupan kita hari ini. Adakah kita pernah bertanya kpada teman yang dapat dipercaya atau kepada seorang ustadz yang kita anggap shaleh tentang aib diri kita ?.. Pernahkah kita, dngan hati ikhlas dan jujur, berusaha mencari tahu apa saja kekurangan-kekurangan diri kita selama ini sebagai pijakan untuk memperbaikinya di kemudian hari ?..

Tentu sulit menjawab bahwa hal ini sudah atau kerap kita lakukan. yang terjadi malah bisa malah bisa sangat berlainan. Aib yang terkadang sudah sangat telanjang terlihat bukanlah satu hal yang memalukan saat ini dan bukan pula satu hal yg menjadi cambuk diri untuk segera di perbaiki.

Dalam kondisi lain, dan ini yang sering kita hadapi, adalah kondisi saat kita begitu mudah melihat kesalahan orang lain namun tak mampu melihat kesalahan diri sendiri. Benarlah sebuah pepatah lama yang menyebut kotoran kecil di mata saudara dapat terlihat tapi anak hewan di mata sendiri tak terlihat.

Kita terlalu mudah mengkritik dan membeberkan kekurangan orang lain tapi sedikitpun tak tahu kekurangan diri sendiri yang terkadang jauh lebih banyak dan lebih besar dari kesalahan orang lain. Hal inilah yg terkadang membuat kegiatan mengkritik sangat dekat dengan sifat kedengkian.

Jika Umar sampai tergopoh-gopoh bertanya pada sahabatnya tentang aib dirinya tentulah perkara ini sangat besar nilainya. Umar bahkan mengirim doa bagi siapapun yg membeberkan aib dirinya kepadanya. Karena hal itu adalah kebaikan baginya sekaligus poin penting untuk menjadi hamba yang lebih bertakwa dan lebih ikhlas.

Aib yg diketahui sama dengan penyakit yang berhasil didiagnosa. Inilah hakikat dari penyucian jiwa yg sering diajarkan orang saleh yakni dengan takhliyah (mengosongkan jiwa dari perbuatan tercela), yang di lanjutkan dngan tahliyah (menghiasinya dngan sifat terpuji).

Mukmin sejatinya sudah dijadikan sebagai cermin bagi mukmin yang lain. Merekalah pihak yang menjadi subyek konsep saling menasehati dalam kebenaran dan sabar.

Aib seorang mukmin dapat terlihat pada mukmin yang lain , begitu sebaliknya.

Cukuplah ini sebagai pelajaran bagi semua,, berusaha melihat aib sendiri dengan hati ikhlas dan kesungguhan memperbaikinya...


ღ☆ღ*¨*¤*ღ☆ღ*¨*¤.¸¸::♥: Hamba ﷲ :♥::.¸¸.¤*¨*ღ☆ღ¸.¤*¨*ღ☆ღ


♥!♥ !! ♥!!♥ ' ♥..♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥‌♥♥ !"♥♥!♥ ♥ ♥ ♥

             ♥                   ♥

♥ ♥ '♥ '. ♥ '♥ '. ♥ ' ».................. ♥
.............. ♥♥             ♥

♥Ya... ALLAH ..
I Want To Be A Perfect Muslim

.¤*¨¨*¤.¸¸.¤*¨¨*¤.¸¸.
\¸..Allahu Akbar.¸¸.
.\¸.¤*¨¨*¤.¸¸.¤*¨¨*¤.¸¸ .♥ ♥ '♥ '. ♥ '♥ '. ♥ ' ».................. ♥
...\
☻/...
/▌....
/ \...... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar